Ohpersson22's website

Our website

05
Fe
Pengertian Aqiqah Menurut Agama Islam
05.02.2017 05:50

Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan jika aqiqah merupakan nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada agaknya yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ditemui pada oknum si budak ketika ia keluar daripada rahim permulaan, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 termuda untuk momongan laki-laki serta 1 upaya untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Atas Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak bocah tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan momongan perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh karena itu sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, mulai kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi oleh karena itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, beliau memberi nama dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak perkara 4, hal. 264]

Bukti: Hasan dan Husain adalah cucu Rasulullah SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Lembut, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Norma Aqiqah Budak adalah sunnah (muakkad) cocok pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah merupakan hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya telau (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujaran: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun tak bersifat tentu, karena tersedia sabdanya yang memalingkan atas kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian terdapat yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menjungkirkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh pada aqiqah itu hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam hewan aqiqah tersebut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumangkan kepalanya dengan darah wedus itu. Jadi setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) kepala si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud surah 3, hal. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka mengotori kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu pada mencukur serat si bayi mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah sundut itu beserta minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Rumpun Balban perkara 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah menurut kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW berfirman, “Seorang keturunan terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka pada hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) bagi dasar imbauan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sempurna. Karena rukun ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah mengorek kemudahan bagimu dan tidak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasar pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan apabila tidak dapat melaksanakannya di hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan pada hari di empat belas kasihan, dan kalau tidak mampu, maka dalam hari di dua persepuluhan satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah atas ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih di dalam hari ketujuh, ke empat belas, & ke dua puluh mono. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih tidak mampu oleh karena itu kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala sudah biasa mampu, sebab pelaksanaan dalam hari-hari di tujuh, di empat belas dan di dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh pula melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Bayi yang menyisih dunia pra hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, apalagi meskipun budak yang keguguran dengan syarat sudah berusia empat kamar di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bocah. Namun jika seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah per orang tuanya hingga ia besar, maka dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh sebab itu hal ini tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, maka pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa agaknya, maka di hari ke-2 puluh satu. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Tapi demikian, bahwa ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri pada saat dewasa. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi pada kecil, jadi lebih bagus melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga mereken demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Total hewan aqiqah minimal ialah satu kontrol baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain wahid domba mono domba. ” (Hadits shahih riwayat Duli Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kalian harus mengerti bahwa Rancak dan Husain adalah keturunan kembar. Maka pada mono kelahiran tersebut disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 termuda untuk keturunan perempuan menurut hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor domba dan mulai anak cewek satu termuda. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor sedia yang selevel dan daripada anak perempuan satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama dan mencukur rambut (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di hari Unik, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor wedus sedang untuk anak perempuan 1 termuda.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan terhadap orang tua si anak, tetapi boleh pun dilakukan sama keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Baik Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi telah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor wedus untuk anak laki-laki dan wahid ekor wedus untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah dikasih kepada tetangga dan miskin miskin pun bisa diberikan kepada orang non-muslim. Lagi pula jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya dan dalam bagan dakwah. Dalilnya adalah panduan Allah, “Mereka memberi makan orang rendah, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu adalah orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menghitung apakah nyali besar atau betina, sebagaimana tambo di kaki gunung ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia relasi bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing tersebut jantan mau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum memperoleh dalil lainnya yang menyibakkan adanya hewan selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 mulai kelahiran anak tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, serta mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat & tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan piawai mengundang teman2 dan kerabat untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putri Bazz berkata: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang orang-orang yang engkau lihat gesit diundang atas kalangan nenek, tetangga, sohib2 seiman dan sebagian manusia faqir untuk menyantapnya, dan hal seperti dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada kaitan antara maksud sebuah nama dengan yang diberi identitas. Hal ini ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang menyembulkan hal itu.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna ini diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku balas: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Rumpun Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa sok keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang baik yang cukup diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Mulai Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Pamor Bayi atau Anak Dengan Islami


Mencukur Rambut

Mencukur rambut ialah anjuran Nabi yang benar baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Patut dan Husein lalu beliau menyedekahkan perak seberat serabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan dengan rata; tidak boleh seharga mencukur sekitar kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar pula sedekahnya.

Doa Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, akur Allah terimalah (kurban) dari Muhammad & keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk budak ini dengan kalimat Yang mahakuasa Yang Tertib dari seluruh gangguan syaitan dan gangguan binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat jorok bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu buah situs punya beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Tuhan SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Di dalam aqiqah ini mengandung faktor perlindungan atas syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir itu, dan tersebut sesuai dengan makna hadits, yang mempunyai: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. paket aqiqah bandung Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih tersembunyi dari gelaran syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud per Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai per aqiqahnya”.

3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak saat hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengeluarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur bagi karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah guna sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Create your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!